2AEC0CAE-B867-4450-ACF6-D631D0C9EB1C.jpeg

Setelah mengirim pesan penolakan singkat pada ajakan Pak Jamal pagi ini. Rumi bergegas untuk mengemasi barangnya. Dibandingkan yang lain, otak cerdik Rumi lebih banyak menaruh rasa curiga pada Bapak Kontrakannya itu. Meski tak terbukti tapi Rumi yakin sekali intuisinya tak pernah salah.

Tok .. Tok..

Ketukan pintu terdengar, membuat Rumi makin mempercepat packingnya, firasatnya terasa buruk. Rumi pun berinisiatif untuk mengirimkan bukti dan segala hal yang berkaitan dengan kasus korupsi kepada Baskara lebih dulu.

“Aku percaya kamu, Bas.” desisnya sebelum kirimkan tombol (kirim) bewarna biru.

Bersamaan dengan itu Rumi bisa mendengar pintu kontrakannya dibuka paksa. Sial! ia kupa Jamal pasti punya kunci cadangan untuk itu. Dengan segera Rumi memencet arat rekam, mati atau tidak ia ingin berkontribusi untuk berikan bukti agar hukuman para koruptor itu semakin berat nantinya.

Record

“Aktivis cerdik seperti kamu sudah sewajarnya tau soal saya lebih dulu.” kata Jamal. Di pagi weekdays seperti sekarang sudah sewajarnya kontrakan menjadi sepi dan tak berpenghuni.

Mendadak Rumi linglung, tangannya sudah aba aba dengan menggenggam gunting sebagai pertahanan diri.

Tapi— emh! Jamal pakai cara lain untuk serang tubuh Rumi, pantas saja ia pakai masker tebal saat memasuki kontrakan Rumi.

“Gas? uhuk.” Rumi sengaja katakan itu agar bisa terekam pada ponselnya.