
‘gausah buru-buru’
‘gue tunggu di apart aja ya, soalnya koper gue gede’
adalah dua buble pesan terakhir yang diterima Kara di roomchatnya bersama Dipta. sadar atau tidak namun laju motor Kara saat ini lebih cepat dari laju biasanya.
setelah memparkirkan motornya di basement gedung apartement, Kara berjalan cepat menuju unit apartementnya. semenit sebelum ia menekan enam digit password di smartdoornya ia sempat menetralkan nafas yang sedikit memburu akibat berjalan cepat.
cklek
meski kehadiran Dipta di ruang tengah apartement sudah Kara prediksi, namun Kara masih terkejut dengan kehadiran sosok itu.
“Hi, Kak?” sapa Dipta sembari mengangkat tangan kanannya.
yang di sapa hanya diam tak berkutik, rasa kesal, marah, tidak adil, terkejut dan senang(?) bercampur menjadi satu perasaan yang absurd dan sulit dijabarkan sehingga akhirnya Kara hanya membeku.
“it’s been long time since we break up and don’t see each other. How are u?” Dipta mengakhiri kalimat basa basinya dengan satu senyuman manis. god, Kara’s favorite smile is back. but, nevermind.
“explain.” Kara mengabaikan pertanyaan basa basi Dipta “gue tau lo sadar kalau apartement ini milik gue karena nomor rekening yang gue kasih tertulis jelas nama penerimanya kan ta?”