
Javio akhirnya datang, tentu dengan muka setengah masam seperti hendak melabrak sang sepupu. Tapi niat beraninya itu susut ketika melihat kondisi Marsel yang nggak jauh berbeda dengan sahabatnya.
“Kak?” pekiknya setengah terkejut, bagaimana tidak. Marsel yang sebelumnya selalu berpenampilan tampan bak chef unggul, nggak lupa sama tatanan rambut klimis dan kharisma yang ampuh hipnotis para lelaki maupun perempuan kini berubah menjadi Marsel yang— tak terurus. Kumis dan janggut yang tak dicukur, rambut yang memanjang serta kaos i love singapore menjadi fashion untuk menyambut Javio.
Tapi ada yang lebih menggelitik dari sekedah fashion Marsel hari ini, yaitu… “Kak, lo sakit?” sebagai seorang dokter, Javio tentu menyadari cekung mata Marsel yang gelap nan pipinya yang semakin tirus. Pertanda ada kondisi yang kurang baik dari diri sepupunya.
Marsel menggeleng menenangkan, “Nggak. gue sehat.” — ya tidak sepenuhnya salah, raga Marsel memang masih tergolong sehat. Tak tau lagi kalau jiwanya.
“Bohong.” tukas Javio.
“Kenapa emang kalau gue sakit? lo nggak jadi ngamuk?” sindir Marsel.
Javio ga menanggapi gurauannya, ekspresinya terlihat cukup serius memperhatikan Marsel. “Ada yang lo sembunyiin dari gue ya kak?”
Itulah Javio, peka dan caring. Marsel tau dia nggak akan bisa nyembunyiin kondisinya dadi sang calon dokter muda. Sehingga.. “Anxiety ringan, tapi tenang aja.. gue lagi berobat.” akunya jujur
Hening cukup lama setelah Marsel mengakui itu. Javio menahan diri untuk mengotrol reaksinya, ia tak ingin Marsel merasa dikasihani apabila Javio menangis saat ini juga.
“Dimana Tante Rina sekarang” Javio berdiri dari duduknya, langkahnya yang sembrono itu terlihat tergesa untuk menghampiri kamar milik Tante Rina— Ibu dari Marsel. Javio jelas tau siapa dalang yang membuat Marsel seperti ini dan Rina perlu dinasehati. Tak peduli soal usia dan norma kesopanan, Javio berani menentang itu hanya untuk kesembuhan Marsel.