41979FB2-93A6-458E-A538-8B9AD0CB9F9C.jpeg

“Gue udah minta jemput Andiko.” ucap Nate sembari meletakkan ponselnya di atas meja. sejujurnya keduanya kini tidak terlalu mabuk, namun jika dipaksakan untuk menyetir tentu akan berakhir kejadian buruk.

“Hihi..”

“kenapa lo cekikikan,” tanya dipta setelah mendengar Nate tertawa sendiri. matanya mencincing curiga dengan sikap Nate. “ada lah, nanti pasti lo kaget siapa yang dateng.”

dipta tak peduli, tangannya bergerak menuangkan alkohol ke dalam gelas kecil untuk ke delapan kalinya.

“tes.. tes.. satu.. dua..” seorang gadis dengan pakaian seksi yang dipta kenali sebagai sepupu Saka berdiri menaiki panggung. kata Nate cafebar ini memang menyedikan penampilan live music dari band lokal. meskipun band yang tampil adalah band pendatang baru yang hanya menyanyikan lagu cover dari penyanyi lain, namun mereka cukup berbakat dan memiliki suara yang merdu.

halo .. selamat malam semua.. kami dari Hate Band ingin menyanyikan satu lagu baru hasil karya kita yang berjudul ‘Dumb’ semoga kalian suka ya..” Cia sebagai vokalist dan ketiga kawannya mulai menyanyikan lagu.

sejak intro lagu dimulai hingga sekarang sudah memasuki reff, Dipta sangat familiar dengan nada maupun lirik lagu tersebut. ia bekerja keras membongkar memori dalam otaknya untuk mengetahui moment apa yang dimiliki lagu tersebut, namun gagal. Dipta tak mengingat momentum apapun. lantas kenapa lagu ini terdengar sangat familiar.

bingo!

“ini lagu millik Kara!” Dipta tersentak dengan ingatannya sendiri, tubuh yang sebelumnya bersandar pada kursi cafe langsung tegak. what the fuck this bitch, geram Dipta dalam hati. emosinya memuncak lagu ciptaan Karamel diklaim orang lain sebagai karyanya. tapi tak mungkin dipta melabrak gadis itu dan golongannya di depan khalayak tanpa bukti. jadi dipta memutuskan untuk menunggu Cia menyelesaikan penampilannya sebelum mencecarnya dengan pertanyaan.

selagi menunggu itu, Dipta menegak alkohol langsung dari botolnya. peringatan dari Nate pun ia abaikan. “Dip, pelan pelan woy! inget masih ada hari esok, awas aja lu sakit!”