
Satu hantaman besar seperti jatuh menimpa punggung Mark saat baca tau dimana Haechan berada. Mark bodoh tak memeriksa kondisi Haechan lebih awal, padahal ia sudah memiliki rasa curiga diwaktu tak menangkap sosok Haechan di lokasi konser.
Pukul sembilan malam, hampir 24 jam penuh tubuh Mark masih terjaga. Setelah sebelumnya sang badan diforsir untuk persiapan juga perform konser. Mark terhitung hanya memiliki waktu tidur kurang dari dua jam dikamar Jeno.
Tak bohong rasanya penat sekali menyusuri lorong rumah sakit yang tak berkunjung berakhir, tuk temui sang pujaan hati.
“Kak Mark..” Mark samar samar dengar suara pelan itu dari salah satu ujung lorong. Suara yang ia yakini milik Haechan meski nadanya lebih lemah dari biasanya.
Mark menoleh dan tentu langsung mendapati sosok Haechan yang berdiri menantinya. Wajahnya terlihat tak kalah lelah, pun cekung matanya sangat tunjukan Haechan kurang tidur.
“Cil.” Mark melangkah cepat, hampiri Haechan yang masih terdiam di tempat dan…
Emp!
Peluk erat tubuh mungil si gemini, rasanya lega sekali bisa kembali bawa Haechan ke dada bidangnya. Karena kehilangan Haechan adalah satu hal yang paling Mark takuti— jauh dari kehancuran kariernya.
Baik Haechan maupun Mark nggak bersuara, lidah mereka terlalu lelah untuk untaikan sebuah kata. Namun yang pasti— keduanya sama sama inginkan pelukan ini. Pelukan yang bisa serap lelah dan beban berlebih. Pelukan yang nyamankan ruang di hati.
Cukup lama mereka tenggelam dalam rengkuhan hangat satu sama lain sampai..