
“Nate dateng jam berapa? kamu gamasalah aku tinggal?” tanya Saka kelima kali. yang akhirnya hanya dijawab dipta dengan kekehan
“tanya sekali lagi, dapet hadiah piring loh.” canda dipta.
“yaudah, aku pergi ya.” kesibukannya sebagai anggota himpunan mengharuskan Saka melakukan kegiatan yang tidak bisa dihindari salah satunya adalah diklat tahunan. “obatnya udah diminum kan? supaya nyerinya ga kerasa, tadi udah aku siapin, tinggal minum glek glek selesai” omel Saka terakhir kali sebelum pergu
“iya iyaa udah diminum, byeee, thankyou ya” jawab dipta sembari melambaikan tangan yang tidak terbalut perban dan Saka pun hilang dibalik pintu geser bewarna putih.
dipta menghela nafas, bohong jika ia berkata baik baik saja padahal tangan dan kaki kanannya nyeri disetiap gerakan yang ia buat.
“haus,..” gumam dipta sendirian. lalu menengok botol minuman ternyata terletak di meja yang tak jauh dari tempat tidurnya, dipta merasa sanggup menjangkau botol tersebut. namun, ia tak mengira gerakan kecil yang ia buat menghasilkan rasa nyeri disepanjang tangan kanannya. “aw.. akh..” dipta meringis
“mau minum?” suara tiba-tiba itu berasal dari laki-laki beraroma mint yang baru saja menggeser pintu kamar inap Dipta, bertepatan dengan itu badan dipta yang sedari awal memiliki posisi yang tidak seimbang limbung ke arah sisi kanan tempat tidur. untung saja, kara yang memang melangkah mendekati dipta dengan cekatan melingkarkan tangannya ke pinggang dipta untuk menahan badan dipta agar tidak terjatuh lebih jauh.
“jangan banyak gerak dulu, biar gue aja” tawar Kara yang langsung mengambil sekaligus membuka tutup botol air minum dalam kemasan itu,
“makasih kak” dipta menegakkan kembali tubuhnya setelah 10 detik berada dalam topangan Kara. keduanya salah tingkah atas kejadian tersebut. maklum setelah putus dipta dan kara tidak pernah berada didalam pelukan satu sama lain. meskipun tinggal seatap mereka selalu berada di batasan jarak yang telah ia tentukan.
“Saka tadi bilang ke grup kalau dia ada acara jurusan diklat tahunan. so, gue kesini buat jagain lo” padahal, sebenarnya kara tidak beranjak sedikitpun dari rumah sakit. Saka juga memberitau perihal diklat saat keduanya sedang menunggu dokter membersihkan luka dipta.