wet drowning, begitulah nama medis gejala yang sedang dipta alami. penyebabnya dikarenakan paru-parunya terisi air laut yang cukup banyak. untung saja dipta tidak mengalami trauma otak atau sebagainya, kadar garam dalam tubuhnya pun normal. namun dia tak kunjung sadar, sudah hampir 24 jam sejak dipta ditemukan nelayan, apa mungkin dipta ingin beristirahat lebih lama?

93C54418-8409-485D-901E-FD4BFA47BE2F.jpeg

karamel tak pernah lepas menggenggam tangan dipta dan meletakkannya dipipi. berharap tangan itu ikut menghangat seperti tubuhnya. dipta tadi sempat mengalami hipotermia.

“please.. dip, kamu bangun ya..” ucap karamel dengan nada nanar. siapapun yang mendengarnya pasti akan tau betapa putus asanya suara ini.

“masih ada banyak hal yang pengen aku lakuin sama kamu, tunangan.. menikah.. adopsi anak.. jalan-jalan..”

“liat deh, ini. liat aku bawa lagi cincin jaman SMA kita. aku punya plan bakal ngelamar kamu sepulang dari Jepang.”

karamel melingkarkan salah satu cincin ke jari manis dipta, “sekarang kita udah tunangan, ya… kamu tunangan aku sekarang.. jadi kamu nggak boleh pergi.. hiks…” pecah sudah tangis karamel yang susah payah ia tahan.

“sorry, i’m sorry …i’m sorry,..” karamel kecup dalam tangan dingin itu. “kamu bangun dong, ta..” entah berapa kali dalam hari ini karamel menangis melihat dipta yang pucat pasi dengan tubuh penuh alat bantu hidup ini.

i can’t live without you.. sumpah.. aku bahkan gabisa bayangin.. dipta i owe you a thousand happiness. i should make you happy, yang aku lakuin masih sedikit… masih banyakan luka yang aku kasih.... please.. kamu harus hidup.. demi aku.. demi kita..