
Baru aja Rumi nyelesain urusannya di toilet, tiba-tiba ia dikejutkan sama dua pria berbadan besar yang sedari tadi udah nungguin Rumi keluar dari bilik kamar mandi. Tanpa nunggu lama mereka langsung deketin Rumi.
“Apa benar kamu Rumi Andaru?” tanyanya datar, dia ngehalangin langkah Rumi yang mau balik buat nyamperin Nalen. Rumi bingung awalnya bingung tapi dia tetap jawab dengan berani.
“Iya benar, ada apa?” jawabnya santai. Salah satu pria langsung ngeluarin tanda pengenal yang buktiin bahwa dirinya adalah anggota polisi.
“Perkenalkan saya Saiful dari Polda Kwangya unit laka lalulintas” katanya, Rumi agak mengernyit dan memperhatikan liontin itu dengan seksama, Barangkali ini sebuah modus penipuan terbaru.
“Tujuan saya menemui anda hari ini adalah ingin melakulan pemeriksaan mengenai kasus kecelakaan almarhum jurnalis Dimas Alur.” lanjut Saiful. Rumi sempet kaget ketika nama Kak Dimas disebut, karena jika penyelidikan mengenai kecelakaan Kak Dimas masih berjalan maka artinya ada yang ngga beres dari kejadian tersebut.
“Saya? diperiksa? mana surat tugasnya?” tanya Rumi tegas, dia paham mengenai alur pemeriksaan seperti ini. Takutnya jika Rumi mengiyakan tanpa adanya persiapan, permintaan kesaksian yang dilayangkan pihak polisi bisa jadi berubah menjadi tersangka. Rumi pernah mendapat mengaduan bahwa polisi jaman sekarang tak peduli soal benar atau salah yang terpenting kasus ditutup dan tunjangan ngalir terus.
Bukannya memberikan surat tugas. Saiful malah mencengkram tangan Rumi dan menuntun Rumi secara paksa masuk kedalam mobil jeep.
“Woy Pak, apa apaan sih! Lepas!” protes Rumi, ia jelas memberontak.
“Saya gak mau diperiksa tanpa surat tugas!” Tolak Rumi sepanjang perjalanan, mulai dari lokasi toilet titik mereka bertemu hingga keluar dari zona keramaian demo dan kemudian berakhir di parkiran tetap diabaikan oleh aparat. Mereka bungkam tapi konsisten untuk bawa Rumi ke kantor polisi Kwangya
“Udah ikut aja! atau kamu akan tau akibatnya.” kata Saiful yang mulai lelah. Rumi gak takut, dia beneran gak mau diperiksa dengan cara memaksa dan tanpa hormat.