
Sangking marahnya Rumi liat kehidupan kakak lelakinya disini, ia bahkan tak sanggup mengumpat lagi. 11 tahun pamit untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi di negeri paman sam Amerika serikat ternyata omong kosong.
Kakaknya malah ditemukan jadi pengangguran dan tinggal dipinggiran kota, beralaskan tikar dan atap bocor.
“Gue ga expect lo nemuin gue secepet ini.” Rama tak tau diri, masih bisa melempar canda. Bagai orang tuli, Rumi pun tak menanggapi.
“Jelasin.” nada Rumi terdengar berat. Menahan gemuruh emosi.
“Mulai darimana? kisah 11 tahun yang lalu?” kata Rama. Ia tak takut menatap Rumi, mengerti bahwa meski mulut Rumi berkoar kasar, masih ada kata peduli untuknya dalam dada.
“Semuanya, beasiswa Amerika - kehidupan lo - Email korupsi dan..” tangan Rumi mengepal erat “Kenapa lo ninggalin gue dan Ibu.”
Mata Rama memerah, tentu ada perasaan bersalah ketika jalan hidup yang ia pilih membuat hidupnya sulit dan kehilangan moment dengan keluarga kecilnya.
“Lo jahat tau nggak!? bahkan ketika Bapak mati pun lo gak dateng ke pemakaman, Bang! Lo—“
Bug! “Jahat.-” bug! “Banget.” bug! “Brengsek!”
Rama sukarela menerima pukulan Rumi pada tubuhnya, memang benar ia adalah anak yang durhaka. Tapi ini semua juga bukan kemauannya.