
Akhirnya Dhika mutusin buat bawa Hema ke salah satu cafe di Jakarta pusat. Waktu Hema tanya perihal kenapa harus pergi sejauh ini hanya untuk minum kopi, Dhika malah enteng menjawab “Yang ini beda. Lo pasti suka.”
Usut punya usut, cafe yang dipilih Dhika memang punya konsep yang unik. Papan bertuliskan OPEN nya saja terbuat dari papan cutting action. Ketara banget kalau tema mereka film and photography.
“Rame banget, Dhik.” komentar Hema setelah melihat padatnya mobil yang memenuhi halaman cafe. Jika saja mereka tak memakai motor mungkin Dhika tak akan kebagian tempat parkir.
“Iya, soalnya hari ini ada yang dateng.”
“Siapa?”
Dhika senyum, “Nanti juga lo tau”
Oke, parkir sepeda udah. Mereka juga udah pake hoodie buat nutupin logo di seragam sekolah. Dhika dan Hema udah ga keliatan kalo masih SMA. Baru deh masuk ke cafe bernama Photocoffe itu.
Harum aroma kopi tetap mendominasi meski beberapa barang seperti kamera authentic dan kertas film dipajang disegala sudut cafe. Disana seluruh pengunjung terpaku mengahadap panggung yang biasa ditujukan untuk nonton film bersama, tapi kini malah digunakan untuk sebuah seminar.
Tunggu! Hema mengerjapkan mata tak percaya, itu kan sutradara nomor satu di dunia perfilman Indonesia…. Joko Anwar!
Hema langsung menolehkan kepala tuk menatap cowok yang mengajaknya kemari. Seolah tau, Dhika mengangguk sambil menyunggingkan senyum. “Iya, itu Joko Anwar.”