7A171DD3-6E81-47FA-827A-D3B0B360BE52.jpeg

sebenarnya Dipta bisa saja abai pada ratusan pesan teror yang ia dapatkan, tapi satu pesan ini sangat menganggu hatinya. berbeda dengan pesan lainnya yang berisi hujatan dan makian, pesan satu ini berisikan kalimat ajakan.

if you want to meet your real mother, you can come in Lamian Beach. Sore ini! nggak pakai lama!

-your brother”

sejak tiga tahun lalu, setelah dipta mengetahui fakta bahwa dia adalah seorang anak haram dari hasil perselingkuhan papanya dan wanita bernama Laura, dipta mati-matian mencari sosok tersebut, ibu kandungnya.

namun semua usaha berhasil nihil, nama Laura bagai hilang ditelan bumi. orang bilang, sejak melahirkan dirinta dia pindah rumah dan tak pernah tampak lagi.

dipta sempat curiga bahwa sang papa adalah dalang dibalik hilangnya sang ibu, namun papanya tak pernah menjawab, pertanyaan dipta. ia selalu diabaikan jika mengangkat topik sekertaris itu. sehingga dipta clueless dan menyerah untuk mencari Laura. maka dari itu ketika membaca pesan diatas, jantung Dipta berdetak cepat, excited bertemu dengan wanita yang telah melahirkan dia kedunia. meski tak ikut membesarkan tapi dipta bersyukur karena hadir di dunia dan dapat bertemu laki-laki bernama Karamel, membuatnya sangat bersyukur.

terimakasih, Laura.

taksi yang dipta tumpangi sudah mulai melambat, menandakan ia akan sampai ditujuan. setelah membayar dan turun dari taksi. dipta pun cepat-cepat menuju tempat yang dimaksud, pantai indah tidak seramai pantai yang berada di Bali. tapi, keindahanya hampir setara dengan pantai Kuta.

dari jauh dipta dapat melihat sosok berbadan tegap yang berdiri di ujung jembatan kayu yang menjorok kelautan. itu adalah kakak tirinya. meskipun wajah pria itu belum dapat Dipta kenali, tapi Dipta tau kakak tirinya itu memilikir wajah rupawan. tapi dimana sang ibu? lelaki itu hanya berdiri sendiri menatap lautan.

langkah demi langkah dipta lewati, hingga akhirnya lelaki itu menoleh dan menatap dipta seolah olah ia sudah menunggu sangat lama moment ini.