54373868-5891-4B11-AA6A-3013421A358D.jpeg

2003

“Mark, kamu mau kan ikut sama Mama tinggal di Bandung? Disana… kita bisa makan baso aci kesukaan kamu tiap hari.” begitu kira-kira bujukan sang Ibu saat uraikan kata perpisahan dengan Ayahnya. Mark kecil tak begitu mengerti, namun ketika sang Ibu mulai melanjutkan ucapannya “—Kamu juga bisa sekolah disana, cari teman baru dan hidup bahagia dengan Mama. Mau kan, Mark?”

Mark kecil tak punya pilihan selain mengikuti ujaran Ibunya. Meski ada bagian hati yang berat ketika ia memutuskan untuk pindah.

Haechan, satu nama yang jadi alasan Mark berat hati untuk pergi. Si lucu pecinta yupi dan tak suka tomat di bola baksonya itu— pasti akan sedih ketika Mark pergi nanti.

Dengan tangan gemetar dan puluhan permen yupi yang telah ia beli, Mark menuliskan pesan terakhir untuk Hecil.

“Haechan, maaf besok aku sudah tidak bisa membalas suratmu. aku akan pindah, tidak lagi sekolah di Tadika Mesra. Mamaku ingin berkebun di kota Bandung dan aku harus membantunya.

Ini hadiah buat kamu, tapi jangan di makan terlalu banyak. Nanti gigi kamu sakit lagi

Mark”

Begitu kira-kira isi surat terakhir Mark sebelum bergegas menuju parkiran sepeda, tempat biasa ia menyelipkan balasan surat untuk Haechen, tapi sayang…

“Cari sepeda Haechan ya, Mark?” tanya Fizi yang juga datang mengambil sepedanya.

“Iya.”