
Hema meregangkan badan setelah satu jam tertidur dalam perjalanan menuju pantai pulau Pari. Jody sebagai pengemudi sekaligus pemilik mobil sangat berjasa pada syuting kali ini, bayangkan saja jika dia tak menawarkan mobilnya untuk dipakai. Masa iya Hema harus menaiki motor KLX Dhika yang tak nyaman itu lagi.
Dhika jadi orang yang pertama menurunkan peralatan syuting— mulai dari kamera, monitor, microphone dan banyak lainnya. Jody dan Randika menyusul kemudian. Sedangkan Hema..
“Emh! bagus, bukannya bantuin malah minum es kelapa.” sindir Randika sembari bopong satu tiang lampu yang akan mereka gunakan.
Hema cuma nyengis sambil pamerin buah kelapa yang sudah dilubangi bagian atasnya untuk dinikmati. “Bilang aja kalau lo juga mau.”
“Hem.” Dhika manggil dengan dua tangan yang penuh sama barang bawaan. Satu tangan ngangkat kursi lipat, satunya lagi bawa lighting. Bikin Hema ga enak hati kalo cuma duduk dan ngeliatin.
“Kenapa?”
“Nitip tas gue yah.” katanya sambil nunjuk ke arah slingbag hitam miliknya yang tergeletak ga jauh dari tempat Hema minum es degan. Hema dengus, terus dia ambil tas itu jalan ngehampirin Dhika.
Tas itu dipake dibadannya supaya ga ribet, soalnya Hema mau bantuin Dhika angkat kursi. “Sini.”
“Nggak usah.”
“Siniin.“ Hema maksa, yaudah Dhika biarin Hema bawa sisi lain dari kursi lipat tapi dia ngga lepasin pegangannya. Biar Hema bawanya ga terlalu berat.