96E39CE5-EE52-42E8-9EC7-71A0A18F8A66.jpeg

Hening cukup lama meski ketiga anggota keluarga Hema sudah lengkap berkumpul diruang tamu. Selembar surat panggilan orang tua, surat pernyataan beasiswa dan piagam murid berprestasi sukses diterima oleh Mamanya sore ini. Namun hal itu tampaknya belum membawa kebanghan bagi sang Ibu.

“Hema.” Panggil sang Papa. Membuat Hema mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk.

“Kamu berminat untuk study exchange ke luar negeri?” tanyanya. Hema sejenak melirik takut kearah sang Mama sebelum akhirnya menjawab dengan sebuah gelengan.

“Hema kamu—.” ketika Mamanya hendak memprotes, Papa Hema dengan sigap langsung memberi isyarat untuk untuk tetap diam.

“Diem dulu kamu, biarkan Hema ngomong apa yang dia pengen untuk masa depannya.” tegasnya. Papa Hema sangat jarang berkontribusi perihal pendidikan Hema, tapi untuk kali ini ia sudah terlalu muak dengan kerasnya sang istri dalam menentukan pendidikan putranya.

“Lanjutkan Hema, apa yang ingin kamu lakuin kedepannya. Kuliah-Jurusan atau apapun itu. Papa ingin dengar pendapatmu.”

Hema negul ludah “Untuk sekarang, aku pengen tetap lanjutin sekolahku di SMANSA, aktif berkegiatan di eskul Archos dan bisa ngelakuin hoby fotografiku tiap weekend. Kesempatan beasiswa yang diberikan oleh pemerintah akan aku ambil disaat kuliah nanti, jurusan yang aku pengen adalah ilmu Televisi dan Perfilman di Universitas Padjajaran. Karena jurusan itu sesuai sama cita-citaku buat jadi Sutradara. Sambil kuliah aku juga punya niatan untuk bangun suatu rumah produksi yang rencananya bakal jadi wadah pembuatan film dan karya sinematik para mahasiswa. Nggak cuma itu, aku juga bakal nyiapin portofolio untuk persiapan S2 nanti dan upayain bisa kuliah disana dengan hasil beasiswa atau royalti film yang aku buat.”

Papa Hema tercenggang kagum atas plan putranya yang sangat matang, diumur yang belum genap 17 tahun Hema sudah memikirkan rencana hingga pendidikan S2-nya.

“Oke, Papa dukung rencana kamu.”

“Mas!” Mama Hema menyela.