75D8E3EE-3602-4099-ABAF-BCA41C217D86.jpeg

Mark nggak tau mengapa tubuhnya refleks memperoleh tenaga extra setelah hampir seharian diforsir menyelesaikan schedule CELINE yang amat padat ketika membaca satu kalimat ‘lapar’ pada pesan yang Haechan kirim.

Dua minggu tepat sejak pertemuan pertama mereka, dan kini Mark sudah merindu lagi.

Ada banyak alasan yang memberatkan hati Mark untuk segera mengaku mengenai cerita masa kecilnya dahulu. Meski hal itu akan mempermudah jalan pendekatan yang sedang Mark lakukan, tapi… Mark akan lebih senang jika Haechan mengingatnya secara mandiri.

Sebelum benar benar meninggalkan studio dan dua sobat karibnya yang tengah terlelap pada sofa ruangan recording, Mark sempatkan diri untuk berkaca sebentar. Memeriksa apakah penampilannya cukup tampan membuat Haechan bersemu merah.

“Perfect.” pujinya mandiri. Nggak ada yang spesial oufitnya malam ini. Kaos hitam dan ripped heans senada tak lupa beberapa aksesoris khas anak band. Hanya saja Mark memilih tak gunakan masker atau topi seperti biasanya— sehingga wajah tampannya malam ini benar benar terpampang tanpa penghalang.

Mark hampir tak ingat kapan hari ini terakhir terjadi— pergi keluar tanpa usaha sembunyikan identitasnya. Kebebasan yang selama ini ia cari. Kenapa tak pernah terlintas untuk pergi pada malam hari. Padahal Mark sering tertidur larut atau bahkan ketika matahari mulai menyapa. Sulit bagi Mark tidur dimalam hari sebab saat itulah moment ide lagunya muncul.

Nggak butuh waktu lama bagi Mark sampai ke rumah bertingkat dua yang jadi hunian Haechan, lalu lintas malam yang sepi serta jarak yang tak banyak ditempuh jadi salah satu alasannya.

‘Aku di depan’ send

‘Aku di depan’ read