F02CA81B-1808-493A-B597-D734C4058D05.jpeg

Setelah masukin beberapa pasang baju secara asal dan bergegas hampirin mobil BMW milik Bara, Rumi bener-bener ngerasa canggung. Ada perasaan menggelitik ketika nunggu kedatangan Bara buat jemput dirinya.

“Nunggu lama ya?” tanya Rumi ketika baru duduk di kursi samping kemudi. Bara cuma geleng sambil senyum simpul dan langsung tancap gas buat jalan. Keliatan banget kalo pikirannya lagi kacau. Kemeja biru yang dipake sejak pagi udah kusut karena dua kancing teratasnya dilepas. Lengannya juga digulung sampe siku, bikin tangannya yang berurat itu terekspose. Gak bohong, Bara malah jadi cakep kalau lagi kusut gini. Tapi tetep aja, Rumi gasuka liat dia pusing melulu.

Hening, baik Rumi maupun Bara ga buka obrolan. Meski tadinya Bara yang mancing buat ngajakin pelukan, tapi waktu ketemu dia diem aja tuh? masa iya Rumi harus nemplok duluan?

“Sekarang— Pak Siwon udah siuman?” adalah pertanyaan pertama yang dilontarkan Rumi. Pasalnya inilah yang menjadi penyebab terbakarnya amarah mahasiswa sumbu pendek.

“Belum, doain aja.” jawab Bara.

“Siapa pelakunya?” tanya Rumi lagi.

“Ada,” Bara tersenyum pahit “Orang yang ga pernah gue sangka bisa ngelakuin itu.” lanjutnya. Rumi jadi ikut teriris dengan jawabannya, sepertinya pelakunya berasal dari orang terdekat Bara.

“Are you okay?” Rumi bersimpati, meski ia bisa mendapat jawaban hanya dengan melihat penampilan Bara yang jenuh sekarang. Tapi dia ingin pastiin lagi.

“I’m not, Rum.” kata Bara sambil menoleh ke aktivis itu. “Semua orang terdekat gue— gak bisa dipercaya, gue bingung— gue marah— gue ngerasa tolol.” suara Bara bergetar ucapkan keluhan itu. Sangat tersirat pandangan putus dan kecewa menjadi satu, usaha yang Bara kerahkan dalam menyelidiki kasus ini berakhir nihil.

Rumi bingung, dia tak bisa bantu apapun. Bukan ranahnya untuk ikut campur dalam urusan instansi negara yang paling steril dan independen. Semua yang dilakukan KPK harus berdasarkan bukti yang sesuai hukum, sehingga Rumi tak bisa ikut kirimkan opini.