
Sebagai seorang ayah dari putra sematawayangnya— Seo Haechan, Seo Kang Joon tentu memiliki hati yang amat berat ketika ingin meninggalkan sang anak tinggal mandiri di kota metropolitan ini.
“Kamu beneran bisa jaga Haechan kan, Mark?” pertanyaan itu hadir lagi dalam obrolan sorenya dengan Mark. Ya, Seo Kang Joong sore lalu mengajak Mark untuk bicara di kedai kecil— hanya berdua dan tanpa sepengetahuan Haechan.
Mark tau seberapa banyak bibirnya berusaha meyakinkan Kang Joon, pria itu pasti tak akan merasa puas. Apalagi statusnya sekarang masih di tahap ‘pacar baru’ sang anak. Apa yang bisa diharapkan jadi seorang pacar? pacar Haechan sebelumnya juga buruk.
“Om.” Mark manarik perhatian Kang Joon dari kopi panasnya, wajahnya tak menyiratkan keraguan saat nekat ungkapkan “Izinin saya ngelamar Haechan sebelum Om berangkat ke Melbourne”
Kang Joong menyicing, tak mengira Mark akan minta restu di keadaan seperti ini.
“Sebagai bukti dan janji saya agar menjadi pasangan terbaik yang bisa menjaga Haechan, Saya ingin lamar anak sematawayang Om sebagai bukti keseriusan saya.” Mark vokal jelaskan isi hatinya. Selain itu ia juga ingin Kang Joon bisa tinggalkan negara Indonesia dengan perasaan lebih tenang.
Ini alasan yang membuat hadirnya lelaki sulung keluarga Lee itu di area Lounge exclusive CGK Airport— ruang tunggu yang hanya bisa dikunjungi pemilik tiket pesawat kelas satu dan para kerabatnya.
“Kak Mark… kok kamu disini?” pekik Haechan terkejut ketika netranya menangkap sosok sang kekasih mendatangi meja lounge nya dengan outfit cukup rapi. Rambutnya yang biasanya berantakan sesuai identitasnya sebagai anak band pun kini di tata rapi dengan pomade. Haechan gatau apa alasan dibalik kedatangan Mark, yang ia tau Haechan suka dengan kehadirannya.
Haechan refleks menole ke kanan dan kiri, memastikan lounge benar benar sepi jika tak ingin wajahnya masuk trending teratas esok hari… dan untungnya, entah ini hari keberuntungannya atau apa… lounge pagi ini tak memiliki pengunjung satupun selain Haechan dan kedua orang tuanya.
Berbanding terbalik dengan Haechan, kedua orang tuanya tampak santai dan menanti kedatangan Mark. Bahkan saat lelaki Leo itu sampai dihadapan Haechan dengan satu kaki ditekuk lutut dan cincin ditangan.