
Dengan tangan bergetar setelah ketik pesan paling menyakitkan baik bagi Hema maupun bagi sang pembaca nanti— Dhika. Dadanya sesak, jauh terasa menyakitkan daripada ketika Mama mengatainya anak tak berguna. Hema tau solusu untuk hubungan mereka tak harus dengan putus hubungan, tapi… melihat track record sifat Mamanya yang tak akan berubah jika melihat Hema bersinggungan dengan kamera dan hoby fotografinya. Hema bisa menebak suatu saat nanti Dhika akan ikut terseret sebagai salah satu momok dirinya tetap tinggal dalam eskul Fotografi tersebut.
Peran Dhika cukup banyak dalam misi mengelebui Mamanya, seperti minta izin belajar padahal sedang syuting. Berprilaku seolah kegiatan rutin yang terjadi di rumah Dhika hanya untuk aksi tutor meningkatkan nilai. Padahal semua itu hanyalah alibi agar Hema bisa terus berkarya untuk membuat film cinematic yang sempurna dan bisa koyahkan benteng larangan yang Mama Hema buat.
“Masuk. Mama antar.” titah Mama ketika melihat Hema yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Mulai hari ini Mama akan lebih ketat jaga sang putra, mengantar dan menjemput tepat waktu. Tanpa ada kesempatan waktu untuk bermain maupun berkutik dengan eskul fotografinya.
Hema tak menjawab, tapi langkahnya menuruti kemauan sang Mama. Mobil pun berjalan dengan pelan keluar dari pekarangan rumahnya.
Hema tak bisa menahan desiran aneh yang membuat matanya perih ketika melihat sosok yang telah ia lukai hatinya itu masih setia pada agenda pagi mereka. Tiap pagi, Dhika memang berkewajiban menunggu Hema diatas motor KLX nya yang terparkir agak jauh dari rumah. Lalu mereka akan berangkat ke sekolah bersama dengan Hema yang berada dalam boncengan, peluk tubuhnya erat.
Tapi mulai hari ini sepertinya kegiatan mendebarkan itu harus berakhir.
Dhika gagal temui Hema di kelasnya pagi tadi karena bel masuk keburu berbunyi. Sepanjang pelajaran dadanya tak bisa berhenti merasa cemas setelah baca pesan yang Hema kirimkan. Tidak, Dhika tak peduli mengenai status mereka yang harus berakhir. Ia hanya takut jika keputusan Hema adalah momok dari tekanan pikiran dari kejadian semalam.
“Dhika, tolong bantu Ibu bawa LKS ini ke ruang guru ya.” kata Bu Rachel. Mau tidak mau istirahat ini pun Dhika harus menunda waktu untuk temui Hema lagi.