74133E4C-AC9B-4816-97DC-5E1D3C2A3365.jpeg

Bergumul didalam satu selimut selebar 200x200cm membuat tubuh Rumi menghangat, sesenti pun Bara tak pernah biarkan tubuh cowok itu menjauh. Rumi ke kanan makan Bara pun juga ke kanan, Rumi ke kiri Bara pun ikut ke Kiri.

“Sampai kapan kamu mau kayak gini, Bar? kamu nggak kerja?” Rumi berbicara, membuat cowok yang sedari terpejam menikmati aroma lifebuoy itu menyauti “Katanya tadi mau dipeluk.”

“Iya, tapi nggak selama ini juga. Pengap tau.” gerutu Rumi, bibirnya mancun satu centi. Merasa sebal ditemplokin lagi. Apalagi tangan Bara itu gabisa diem, gosok gosok mulu punggung Rumi sampe kaos belakangnya terangkat tinggi. Jadi punggungnya kini ga tertutup kain lagi.

“Rumi Andaru.”

“Hm?”

“Terimakasih ya udah bertahan.” Bara membuka mata untuk melihat lelaki mungil yang beberapa hari lalu sempat buat dirinya tersiksa “Aku bangga kamu sekuat ini.” lanjutnya.

Hari Rumi jadi hangat diapresiasi seperti itu, mungkin bagi sebagian orang kesadaran Rumi hanyalah moment biasa, tapi bagi Bara dan keluarganya momentum itu tak akan terlupakan sepanjang hidupnya. Moment yang paling ia nanti semenjak tau kabar Rumi pergi.

“Terima kasih kembali udah bikin aku bertahan.” sahut Rumi. “Kamu tau nggak, Bas? apa aja yang aku lihat di alam bawa sadarku sebelum siuman?”

“Apa?”

“Kamu, tiap aku terlena sama bayangan surga— ajakan Ayah dan nikmat akhirat jikalau aku beneran tiada. Kamu coba tahan aku waktu itu.” ujar Rumi “Kamu tahan dan peluk aku lamaaaaa banget sampai akhirnya aku nggak jadi ikut Ayah, kamu tahan dan mohon buat aku tetep stay.” tangan Rumi terjulur untuk takup pipi Bara yang memerah.